Belajar Menjadi Interviewer yang Lebih Baik: Catatan Reflektif dari Sebuar Seminar

Oleh: Galih Setiawan Nurohim
Dosen Sistem Informasi, Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) Kampus Solo

Desember 2025 menjadi momen yang cukup berkesan bagi saya. Bertempat di Klaten Town Square, Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) Kampus Solo mengadakan sebuah seminar, dan pada salah satu sesi saya diberi kepercayaan untuk menjadi interviewer bagi narasumber. Bagi sebagian orang, peran interviewer mungkin terdengar biasa saja. Namun bagi saya, ini adalah pengalaman yang cukup menantang sekaligus menyenangkan.

Sejujurnya, saya bukanlah sosok yang sering menjadi interviewer. Pengalaman saya sebelumnya terbatas pada beberapa kali menjadi host podcast YouTube yang penontonnya tidak terlalu banyak, serta beberapa kesempatan menjadi MC dadakan di lingkungan UBSI Kampus Solo. Meski demikian, saya selalu memiliki ketertarikan untuk mencoba hal-hal baru. Maka ketika tawaran ini datang, saya menyambutnya dengan antusias dan tanpa ragu langsung mengiyakan.

Tentu saja, keputusan tersebut tidak diambil dengan santai. Saya melakukan persiapan sebagaimana mestinya: mengenal profil narasumber, memahami tema seminar, dan menyusun daftar pertanyaan yang menurut saya relevan. Saat itu, saya merasa cukup siap. Namun, pengalaman di atas panggung justru mengajarkan saya bahwa menjadi interviewer yang baik tidak sesederhana menyiapkan pertanyaan dan membacakannya satu per satu.

Setelah sesi talkshow berlangsung, saya mulai merefleksikan pengalaman tersebut. Saya menyadari bahwa peran interviewer bukan hanya sekadar “penanya”, tetapi fasilitator percakapan. Interviewer bertugas menjembatani narasumber dan audiens agar tercipta dialog yang hidup, relevan, dan bermakna.

Pelajaran pertama yang saya rasakan adalah pentingnya keseimbangan antara persiapan dan fleksibilitas. Daftar pertanyaan memang membantu sebagai pegangan, tetapi ketika saya terlalu fokus pada urutan pertanyaan, percakapan justru terasa kaku. Ada momen ketika narasumber sebenarnya membuka peluang untuk pembahasan yang lebih dalam, namun saya melewatkannya karena ingin segera berpindah ke pertanyaan berikutnya di daftar.

Di sinilah saya menyadari pentingnya teknik probing. Banyak jawaban narasumber yang sebenarnya bisa digali lebih dalam dengan pertanyaan lanjutan sederhana, seperti “bisa diceritakan lebih detail?” atau “apa dampaknya bagi pengalaman Anda?”. Sayangnya, pada beberapa kesempatan saya kurang peka terhadap peluang tersebut. Padahal, probing inilah yang sering kali membuat talkshow menjadi lebih berbobot dan tidak dangkal.

Saya juga belajar bahwa talkshow bukanlah monolog yang terstruktur rapi, melainkan dialog dua arah yang dinamis. Kunci utamanya adalah mendengarkan secara aktif. Ketika interviewer benar-benar mendengarkan, bukan sekadar menunggu giliran bertanya, maka pertanyaan lanjutan akan muncul secara alami. Respon narasumber pun terasa lebih bebas dan autentik.

Persepsi saya tentang “skrip” pun berubah. Awalnya, saya menganggap daftar pertanyaan sebagai sesuatu yang harus diikuti secara disiplin. Namun setelah pengalaman ini, saya melihat skrip lebih sebagai peta jalan, bukan rel kereta. Kita perlu tahu arah, tetapi tidak harus selalu berjalan lurus sesuai rencana awal. Percakapan yang mengalir justru lahir dari ketulusan berdialog, bukan dari kepatuhan kaku pada skrip.

Pengalaman ini juga membangun kepercayaan diri saya. Saya menyadari bahwa kesalahan-kesalahan kecil di atas panggung bukanlah kegagalan, melainkan bagian dari proses belajar. Setiap talkshow adalah ruang latihan untuk menjadi interviewer yang lebih baik: lebih tenang, lebih peka, dan lebih adaptif terhadap situasi.

Key Takeaways / Pelajaran yang Diperoleh

Dari pengalaman tersebut, ada beberapa pelajaran penting yang menurut saya relevan, tidak hanya bagi saya pribadi, tetapi juga bagi siapa pun yang ingin berperan sebagai interviewer atau moderator.

Pertama, persiapkan panduan, bukan pertanyaan yang terlalu detail. Daftar pertanyaan tetap penting, tetapi sebaiknya bersifat umum dan fleksibel. Dengan begitu, interviewer tidak terjebak pada urutan, dan percakapan dapat berkembang secara alami.

Kedua, fokus pada alur percakapan, bukan sekadar daftar pertanyaan. Terlalu sibuk mengejar pertanyaan yang sudah disiapkan justru bisa mematikan dinamika dialog. Mendengarkan dengan saksama dan merespons secara kontekstual jauh lebih bernilai bagi audiens.

Ketiga, manfaatkan teknik probing untuk memperdalam diskusi. Pertanyaan lanjutan yang tepat dapat membuka perspektif baru dari narasumber dan membuat talkshow terasa lebih hidup serta informatif.

Keempat, adaptasi dan fleksibilitas adalah kunci. Situasi di panggung bisa berubah dengan cepat, baik dari sisi waktu, respon narasumber, maupun dinamika audiens. Interviewer yang mampu beradaptasi akan lebih mudah menjaga kualitas diskusi.

Pada akhirnya, saya sampai pada satu kesimpulan sederhana: talkshow bukan hanya soal tanya dan jawab. Ia adalah tentang hubungan yang terbangun antara interviewer, narasumber, dan audiens. Pengalaman di Klaten Town Square tersebut mengajarkan saya bahwa menjadi interviewer yang baik adalah proses belajar yang berkelanjutan, dan setiap kegiatan adalah ruang refleksi untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *