Pada 28 November 2025, Galih Setiawan, M.Kom., dosen Sistem Informasi UBSI Surakarta, mengisi sebuah sesi pelatihan dengan tema “Level up your career and Personal Branding” yang sejak awal dipadati mahasiswa beasiswa. Pelatihan ini bukan sekadar agenda rutin, melainkan bagian dari strategi kampus untuk menyiapkan para penerima beasiswa yang dipilih melalui proses ketat agar memiliki keterampilan yang relevan dengan kebutuhan hari ini. Di luar ruang kuliah dan teori akademik, mereka juga dibekali kemampuan praktis yang kini menjadi tuntutan utama di ruang digital: kemampuan membuat konten.
Dari awal sesi, suasana terlihat hidup. Mahasiswa tak hanya mendengarkan, tetapi mencatat, menanggapi, dan berdiskusi. Dunia konten, kata Galih, telah berubah menjadi ruang kompetitif yang memadukan kreativitas, teknik, dan pemahaman perilaku audiens. Tidak cukup sekadar aktif di media sosial; yang dibutuhkan adalah kemampuan mengelola pesan, memilih gaya, dan menjaga konsistensi.
Galih mulai dengan menjelaskan bagaimana ragam konten berkembang dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu yang paling menonjol adalah gaya konten UGC user generated content. Gaya ini, menurutnya, tumbuh dari spontanitas. Pengambilannya sering kali tidak stabil, kamera sedikit goyang, set up seadanya. Justru di situlah kekuatannya. Relatabilitas tinggi membuat penonton merasa dekat, seakan percakapan terjadi natural tanpa skenario. Banyak brand memanfaatkan format ini untuk kampanye digital yang lebih organik, mengingat audiens kini lebih percaya konten yang terasa “nyata” dan tidak terlalu dipoles.
Di sisi lain, ada konten edukasi yang berkembang pesat berkat figur-figur seperti Raymond Chin. Konten jenis ini mengandalkan keteraturan. Penyampaian rapi, informasi padat, visual bersih, dan struktur yang mudah diikuti. Galih menekankan bahwa konten edukasi, meski terlihat sederhana, memiliki nilai jangka panjang karena membantu membangun kredibilitas pembuatnya. Bagi mahasiswa, ini adalah jalur yang relevan karena dapat disesuaikan dengan bidang studi maupun minat personal.
Fenomena konten viral atau FYP juga mendapat perhatian. Gaya konten ini bergerak mengikuti ritme tren. Ia cepat muncul, cepat menyebar, lalu cepat berubah. Mahasiswa diajak memahami mekanisme di baliknya: bagaimana algoritma mendorong sebuah video, kapan tren mencapai puncak, dan kapan ia mulai mereda. Galih mengingatkan bahwa memanfaatkan tren boleh saja, tetapi tetap perlu identitas konten agar akun tidak sepenuhnya dikendalikan kecepatan arus viral.
Dalam sesi berikutnya, ia memperkenalkan konsep hook kuat atau strong hook style. Konten dibuka dengan adegan mencolok sesuatu yang mengejutkan, menggelitik rasa ingin tahu, atau bahkan menimbulkan kekhawatiran—sebelum beralih cepat ke inti materi. Teknik ini, kata Galih, bekerja sebagai perebut perhatian dalam beberapa detik pertama, fase terpenting di platform yang serba cepat. Jika perhatian berhasil ditangkap, retensi penonton meningkat signifikan.
Mengikat keseluruhan penjelasan tersebut, Galih memperlihatkan bagaimana sebuah konten yang baik bekerja melalui struktur tiga tahap. Ia dimulai dengan setup yang memberi konteks, berlanjut ke problem yang membangun ketegangan atau pertanyaan inti, lalu ditutup dengan resolution yang memberikan jawaban. Struktur klasik ini membantu konten terasa runtut dan mudah dicerna, apa pun gaya yang dipilih pembuatnya.
Bagi sebagian mahasiswa, materi ini menjadi semacam roadmap yang menarik untuk diterapkan saat membuat konten. Salah satunya adalah Aliya Agustin, peserta dari jalur beasiswa undangan. Ia mengungkapkan bahwa sesi tersebut membuka perspektif baru tentang pentingnya memilih dan menjaga gaya konten secara konsisten. Menurutnya, konsistensi itulah yang membuat sebuah akun berkembang, bukan sekadar keinginan untuk mengikuti tren yang sesaat.
Pelatihan hari itu ditutup dengan penekanan ulang tentang 3 act structure yang lagi lagi merupakan hal yang penting dalam menyajikan sebuah sajian baik konten maupun artikel atau art yang lain.Respons mahasiswa memperlihatkan bahwa sesi tersebut memberi arah yang jelas tentang bagaimana mereka dapat memanfaatkan keterampilan membuat konten sebagai modal penting dalam perjalanan akademik maupun profesional. UBSI Surakarta menegaskan bahwa pembinaan terhadap mahasiswa beasiswa tidak berhenti pada dukungan biaya pendidikan. Mereka diperlakukan sebagai calon talenta masa depan yang perlu diarahkan, dilatih, dan dibekali agar siap bersaing di ruang digital yang terus berubah.





