Menulis Sebelum Mengoding: Abstraksi, Kejernihan Berpikir, dan Ruang Kelas di Kampus Digital

Di dunia teknologi hari ini, kita terlalu sering mengagungkan kecepatan. Cepat deploy, cepat publish, cepat selesai. Mahasiswa pun sering merasa sudah “produktif” ketika layar mereka penuh dengan baris kode. Padahal, seperti yang pernah ditegaskan oleh Leslie Lamport, kualitas lahir dari kejernihan berpikir dan salah satu cara terbaik untuk melatih kejernihan itu adalah dengan menulis.

Saya, Galih Setiawan, M. Kom, dosen di Universitas Bina Sarana Informatika Kampus Solo, mencoba membawa gagasan ini ke dalam ruang kelas. Bagi saya, programming bukan sekadar aktivitas teknis. Ia adalah proses intelektual. Dan proses intelektual tidak boleh tergesa-gesa.

Ketika mengajar Data Science, misalnya, saya sering melihat mahasiswa begitu bersemangat membuka laptop dan langsung mencoba regresi linear di notebook mereka. Library sudah diimpor, dataset sudah dibaca, model langsung dijalankan. Tetapi ketika saya bertanya, “Sebenarnya input kita apa? Output-nya apa? Label apa yang kita prediksi? Asumsi modelnya apa?” ruangan tiba-tiba hening.

Di situlah saya meminta mereka berhenti.

Sebelum satu baris kode ditulis, saya minta mereka menuliskan ide besarnya. Kadang di laptop, kadang hanya di kertas coretan. Kita uraikan bersama: variabel apa yang masuk? Hubungan apa yang diasumsikan? Apakah ini supervised atau tidak? Apa bentuk output yang diharapkan? Dengan cara itu, regresi linear tidak lagi sekadar rumus atau fungsi dari library, melainkan model yang benar-benar dipahami.

Hal serupa terjadi di kelas Mobile Programming, terutama ketika menggunakan Flutter. Struktur widget yang bertingkat-tingkat sering membuat mahasiswa tersesat. UI menjadi berantakan bukan karena mereka tidak bisa coding, tetapi karena mereka tidak punya gambaran abstrak tentang apa yang sedang dibangun.

Maka sebelum masuk ke Dart dan menulis Scaffold, Column, Row, atau Container, saya minta mereka menggambar dulu. Sketsa kasar saja. Di bagian atas ada apa? Di tengah ada apa? Perlu scroll atau tidak? Mana yang stateless, mana yang butuh state? Dari coretan sederhana itu, struktur widget menjadi jauh lebih masuk akal.

Ketika abstraksi sudah jelas, coding berubah menjadi proses menerjemahkan, bukan menebak.

Di lingkungan Universitas Bina Sarana Informatika Kampus Solo yang dikenal sebagai kampus digital kreatif, pendekatan seperti ini menurut saya penting. Mahasiswa tidak hanya dilatih agar mampu menggunakan teknologi, tetapi juga diajak untuk memahami fondasi berpikir di baliknya. Teknologi boleh berubah cepat, framework boleh silih berganti, tetapi kemampuan membuat abstraksi dan berpikir sistematis akan selalu relevan.

Lamport berbicara tentang behavioral model memahami bagaimana sistem berperilaku sebelum memikirkan implementasinya. Di kelas, saya melihat sendiri bagaimana pendekatan itu membuat mahasiswa lebih percaya diri. Mereka tidak lagi takut dengan kompleksitas, karena mereka belajar memecahnya di level konsep.

Pada akhirnya, coding memang penting. Tetapi coding tanpa pemikiran yang matang hanyalah aktivitas mekanis. Programming yang sesungguhnya dimulai dari pertanyaan, dari tulisan, dari coretan, dari usaha untuk menjernihkan pikiran.

Dan mungkin, di situlah pendidikan teknologi menemukan maknanya: bukan hanya mengajarkan bagaimana menulis kode, tetapi bagaimana berpikir sebelum menulisnya.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *